![]() |
| Kantor DTPHP Kabupaten Cianjur. (Foto: Ist) |
SIGNALCIANJUR.COM– Kabupaten Cianjur mencatat produksi padi mencapai 765.465 ton Gabah Kering Giling (GKG) hingga Agustus 2026. Capaian tersebut menghasilkan sekitar 452.297 ton beras, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan 180.868 ton. Dengan demikian, Cianjur mengalami surplus beras sekitar 271.429 ton.
Informasi diterima, berdasarkan data realisasi kinerja sektor tanaman pangan, produksi tersebut diperoleh dari luas panen 133.821 hektare dengan produktivitas rata-rata 5,71 ton GKG per hektare.
"Angka ini menunjukkan potensi pertanian Cianjur yang cukup besar dalam mendukung ketahanan pangan daerah," katanya Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar, Kamis (15/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa capaian produksi tersebut didukung oleh luas lahan pertanian, produktivitas tanaman, serta keberlangsungan kegiatan pertanaman padi di berbagai wilayah.
Menurutnya, surplus beras menjadi indikator penting kemampuan produksi pertanian Cianjur dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Namun, upaya menjaga ketersediaan pangan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas dan perlindungan lahan pertanian.
“Peningkatan produksi tidak hanya berorientasi pada jumlah hasil panen," katanya.
Tqpi, ia juga menyampaikan bagaimana menjaga keberlanjutan pertanian, meningkatkan kualitas hasil, dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Kabupaten Cianjur memiliki luas wilayah sekitar 361.940,50 hektare. Dari jumlah tersebut, lahan sawah tercatat seluas 66.086 hektare.
"Terdiri atas 44.479 hektare sawah irigasi dan 21.607 hektare sawah tadah hujan," terang Wahyu.
Sementara itu, masih ditegaskan dia, realisasi luas tanam padi hingga Agustus 2026 mencapai 104.031 hektare. Luas tanam tersebut berbeda dengan luas panen karena tanaman padi membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan sejak penanaman hingga panen.
Artinya, luas panen pada periode tertentu dapat berasal dari kegiatan penanaman pada bulan-bulan sebelumnya. Karena itu, kedua indikator tersebut perlu dipahami berdasarkan siklus pertumbuhan tanaman dan periode pelaporannya.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur terus mendorong peningkatan produksi melalui perbaikan indeks pertanaman, peningkatan produktivitas, penguatan infrastruktur pengairan, mekanisasi pertanian.
"Selain itu penyediaan benih dan sarana produksi," ujar Wahyu.
Masih ujarnya, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan peningkatan kapasitas petani juga menjadi bagian dari upaya menjaga hasil panen.
Selain itu, ia juga mengatakan penanganan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian diperlukan untuk mengurangi kehilangan hasil, dan menjaga mutu.
"Artinya upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk," katanya.
Ia mengatakan capaian surplus beras tersebut, Cianjur memiliki peluang untuk terus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan pangan Jawa Barat. Ke depan, keberhasilan pembangunan pertanian diharapkan tidak hanya tercermin dari besarnya produksi.
"Tapi juga dari meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani," tutup Wahyu.
Pemerintah daerah pun diharapkan terus menjaga keberlanjutan lahan pertanian, memastikan ketersediaan air, serta memperkuat dukungan sarana produksi agar surplus pangan dapat dipertahankan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian. (Red/*)
