![]() |
| Tim Teknis P3DTPQ Cianjur sosialisasi pendidikan kewajiban peserta didik SD/MI dan SMP/MTs ikuti pendidikan keagamaan. (Foto: SignalCianjur) |
SIGNALCIANJUR.COM– Tim Teknis Penyelenggara Pemberdayaan Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur'an (P3DTPQ) Kabupaten Cianjur menggelar sosialisasi kepada para pemangku kepentingan pendidikan terkait kewajiban peserta didik SD/MI dan SMP/MTs ikuti pendidikan keagamaan di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) atau Lembaga Pendidikan Al-Qur'an (LPQ) sebagai salah satu syarat melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat implementasi kebijakan daerah yang telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Cianjur tentang penyelenggaraan pendidikan keagamaan.
Ketua Umum P3DTPQ Kabupaten Cianjur, Muhammad Toha, mengatakan program tersebut harus terus dijalankan secara berkelanjutan guna mewujudkan kembali Cianjur sebagai daerah yang memiliki karakter religius dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
"Program ini harus terus dijalankan secara kontinyu.," kata saat dikonfirmasi langsung awak media, Selasa (9/6/2026).
Masih diungkapkanp dia, jika Cianjur ingin kembali menjadi tatar santri, maka penguatan pendidikan agama bagi generasi muda menjadi salah satu poin penting yang harus diwujudkan.
Menurutnya, kewajiban mengikuti pendidikan diniyah maupun pendidikan Al-Qur'an bukan kebijakan baru, melainkan amanat yang telah diatur dalam Perda dan memiliki payung hukum yang kuat. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat mendukung pelaksanaannya secara optimal.
Muhammad Toha menjelaskan, masih ditemukan sejumlah peserta didik, khususnya siswa kelas VI SD/MI, yang belum memiliki ijazah Madrasah Diniyah Takmiliyah atau Ijazah Pendidikan Al-Qur'an sebagai salah satu persyaratan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
"Masih ada anak-anak yang belum memiliki ijazah MDT ataupun pendidikan Al-Qur'an. Karena itu, diperlukan langkah-langkah yang lebih sistematis agar mereka tetap mendapatkan pembinaan dan memiliki komitmen untuk mengikuti kegiatan mengaji," katanya.
Dalam pelaksanaannya, P3DTPQ telah menyiapkan format surat keterangan yang seragam sebagai pedoman bagi sekolah, guru ngaji, maupun lembaga pendidikan keagamaan. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari perbedaan format administrasi yang selama ini digunakan secara masing-masing.
"Pada tahun-tahun sebelumnya sebenarnya sudah ada surat keterangan serupa, namun formatnya dibuat sendiri-sendiri oleh sekolah maupun guru mengaji. Akibatnya tidak terkontrol, tidak terkoordinasi, dan data peserta didik menjadi sulit dipetakan secara sistematis," jelasnya.
Melalui upaya dari tim teknis P3DTPQ, lanjut Toha, seluruh pihak diharapkan memiliki persepsi yang sama dalam menjalankan kebijakan di lapangan sehingga potensi permasalahan dapat diminimalisasi.
"Kehadiran tim teknis ini bertujuan untuk mensistematisasikan pelaksanaan kebijakan serta menyamakan persepsi agar pelaksanaannya berjalan baik dan tidak menimbulkan persoalan yang tidak diharapkan," tambahnya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur menyambut baik langkah sosialisasi yang dilakukan P3DTPQ. Disdik menilai program tersebut merupakan bagian dari penguatan pendidikan karakter dan pendidikan agama bagi peserta didik.
Kepala Disdik Cianjur, Ruhli menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan lembaga pendidikan keagamaan sangat diperlukan agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
"Penguatan pendidikan agama merupakan bagian penting dalam membangun karakter generasi penerus bangsa. Kami mendukung upaya kolaboratif yang bertujuan membentuk pondasi moral dan spiritual anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang kuat, berakhlak, dan bertanggung jawab," ujar pihak Disdik Cianjur.
Melalui sosialisasi ini, ia berharap seluruh satuan pendidikan, lembaga keagamaan, serta masyarakat dapat memahami mekanisme pelaksanaan kebijakan secara lebih baik.
"Sehingga tujuan membentuk generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan memiliki dasar keagamaan yang kokoh dapat terwujud," tutup Ruhli. (Red/*)

