SIGNALCIANJUR - Cianjur ini lumbung pangan nasional, tapi Ironisnya, petani seringkali kesulitan pupuk dan peternak kita dihantui wabah tanpa mitigasi yang cepat.
Hal tersebut diungkapkan aktivis senior Pendi Yuda, kepada awak media saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026).
"Nah! Harusnya DTPHPKP dan DPKHP harus turun ke lapangan, jangan hanya menunggu laporan di balik meja," katanya.
la juga menyoroti tiga solusi kunci yang harus dijalankan agar dinas benar-benar bermanfaat bagi masyarakat diantaranya yaitu revolusi Rantai Pasok (Hulu ke Hilir), dinas tidak boleh hanya membantu saat tanam.
Ia juga menyampaikan masalah utama petani Cianjur adalah harga yang anjlok saat panen raya karena permainan tengkulak.
"Solusinya, dinas harus memperkuat peran BUMD atau Koperasi Pertanian untuk menyerap hasil panen dengan harga layak," jelas Pendi.
Ia menambahkan digitalisasi Informasi dan mitigasi penyakit yaitu untuk sektor peternakan, DPKHP didesak menciptakan sistem peringatan dini (early warning system) terkait kesehatan hewan yang bisa diakses peternak kecil melalui ponsel.
"Kenapa? Ya, agar wabah seperti PMK tidak terlambat ditangani," harap Pendi Yuda.
Transparansi dan pendampingan berkelanjutan, ia juga mengatakan program bantuan alat mesin pertanian (alsintan) atau bibit seringkali hanya menyentuh kelompok itu-itu saja.
Aktivis Cianjur mendesak adanya transparansi data penerima manfaat yang bisa diakses publik untuk menghindari politisasi bantuan.
"Soal solusi jangka pendek yaitu Satgas Pangan Independen (SPI), sebagai langkah konkret," ujar Pendi Yuda.
Aktivis Cianjur mengusulkan pembentukan Satgas Pangan yang melibatkan unsur masyarakat sipil untuk mengawasi distribusi pupuk subsidi dan stabilitas harga daging di pasar-pasar lokal Cianjur. (Red)



