Mengetahui Kehidupan Abah Kusmayadi Warga Mande Cianjur (1)
Gubuk Tak Layak Dihuni, Lansia Kuli Serabutan Penghasilan Rendah Dambakan Bantuan
CIANJUR— Kisah hidup kesederhanaan Atak Kusmayadi (59), warga Kampung Bobojong RT 2/RW 1, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, menjadi perhatian serius semua pihak.
Laporan: Dedi Rohendi/ Signal Cianjur
Bahkan, perlu adanya bantuan mengulurkan tangan dari semua pihak melalui kepedulian sosial, naik itu para donatur maupun Pemerintah Daerah Pemda) Kabupaten Cianjur, hingga kini.
Informasi yang diterima awak media, terlihat di tengah usia semakin renta dan kondisi kesehatan kerap menurun, Atak masih bertahan hidup di rumah gubuk tak layak pakai ukuran sekitar 2 x 2 meter kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ditempati.
Kusmayadi mengakui gubuk derita yang ditempati itu selama lebih dari dua tahun. Bangunan sederhana dibuat dari bahan bekas sumbangan atau pemberian warga (tetangga) , dengan dinding dan lantai sebagian menggunakan triplek.
Saat ini, diungkapkan dia, kondisinya dengan seiring waktu, bagian bangunan mengalami kerusakan.
"Nah! Sehingga kondisi tempat tinggal saya semakin memprihatinkan," ucap Kusmayadi, nampak terlihat sedih, ikhlas dan hanya bisa pasrah, Rabu (23/9/2026).
Di tengah keterbatasan tersebut, dirinya tetap berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja sebagai kuli serabutan. Penghasilan diperolehnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok dan lauk-pauk.
Kehidupan, dirinya sebelumnya juga tidak mudah. Ia pernah menikah dengan ibu Aay (58) dan dikaruniai anak laki-laki. Namun, rumah tangga tersebut tidak bertahan lama.
"Saya menjalani kehidupan dengan membesarkan anak seorang diri. Artinya seorang ayah plus juga menjadi ..ibu," aku Kusmayadi.
Menurutnya, ketika dewasa anaknya mengalami gangguan kesehatan berupa gangguan jiwa dan epilepsi. Kondisi tersebut berlangsung hingga akhirnya sang anak meninggal dunia.
"Kini saya kembali menjalani kehidupan sebarangkara," tutur Kusmayadi.
.
Hal sama ia pun membenarkan bahwa dirinya memilih tetap tinggal di gubuk tersebut karena tidak ingin merepotkan keluarganya. Namun, dengan kondisi bangunan semakin rusak dan kesehatannya yang tidak selalu prima, kehidupan sehari-harinya menjadi semakin berat, beban yang dipikulnya.
“Saya tetap bertahan di sini karena tidak ingin merepotkan keluarga," aku Kusmayadi.
Kalau mungkin, misalnya ia berharap ada perhatian dan bantuan serius dari para dermawan maupun pemerintah ingin sekali rasanya untuk memperbaiki rumah iji.
"Ya! Seperti terlihat rumah yang tidak layak dan tidak nyaman,” ujar salah seorang warga di Kecamatan Mande. (*)