![]() |
| Muskorda IJTI Cianjur. (Foto: Ist) |
SIGNALCIANJUR.COM— Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Cianjur menggelar Musyawarah Koordinasi Daerah (Muskorda) III Tahun 2026 di Hotel Baydil, Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Selasa (8/9/2026).
Ketua IJTI Cianjur, Chaeronsyah, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menggeser prinsip dasar jurnalistik, khususnya akurasi, verifikasi, keberimbangan dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik.
“Algoritma tidak punya hati. Dia hanya mendorong apa yang viral. Tetapi kita punya Kode Etik Jurnalistik. Tugas kita bukan sekadar mengejar view, melainkan meluruskan, memverifikasi dan mencerdaskan masyarakat,” tegas Chaeronsyah.
Menurutnya, isu-isu yang berkembang di Cianjur, mulai dari bencana, persoalan sosial hingga politik, membutuhkan informasi yang bersumber dari data dan proses verifikasi, bukan asumsi.
“Muskorda III ini menjadi momentum untuk semakin kompak. Satu suara, kredibilitas di atas segalanya. Jangan sampai satu oknum merusak nama baik seratus jurnalis lainnya,” ujarnya.
Chaeronsyah juga mengingatkan seluruh anggota IJTI agar mengedepankan prinsip “cek dulu, tayang kemudian”, menghormati narasumber maupun korban, serta tidak mengeksploitasi suatu peristiwa demi kepentingan pemberitaan.
Ia menekankan, karya jurnalistik harus menjadi jawaban terhadap maraknya konten menyesatkan di ruang digital.
“Kita bukan buzzer, kita jurnalis. Karena itu, marwah dan profesionalisme IJTI harus terus dijaga,” katanya.
Dalam kepengurusan periode 2026–2029, IJTI Cianjur juga akan mendorong berbagai program peningkatan kompetensi, termasuk pelatihan jurnalistik dan literasi digital bagi jurnalis, pelajar, masyarakat umum, serta kelompok kreator konten.
Chaeronsyah mengatakan, pelatihan tersebut penting agar masyarakat dan para kreator memahami kaidah jurnalistik ketika memproduksi serta menyebarkan informasi.
“Kami juga akan mendorong anggota yang belum mengikuti IKJ untuk segera menempuh prosedur tersebut. Selain itu, pelatihan jurnalistik akan terus dilaksanakan, termasuk bagi TNI-Polri, pelajar maupun masyarakat umum,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengurus IJTI Cianjur tidak akan bekerja sendiri. Penguatan organisasi akan dilakukan melalui kolaborasi antarpengurus serta masukan dari Dewan Penasihat.
“Alhamdulillah, ini amanah bagi saya untuk menjaga keberlangsungan organisasi," katanya.
Ia juga mengungkapkan apa pun pasang surut dunia media, pihaknya harus tetap eksis dan terus berkarya. Program yang sudah berjalan akan dilanjutkan dan kekurangan yang ada akan dilengkapi bersama.
Kemudian, IJTI Cianjur juga berkomitmen membangun sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur, TNI, Polri dan berbagai unsur media menciptakan ekosistem informasi yang sehat, akurat dan bertanggung jawab.
Kepada masyarakat, Chaeronsyah mengajak publik lebih kritis dalam menerima informasi, khususnya informasi yang beredar melalui potongan video atau unggahan media sosial yang belum jelas sumber dan konteksnya.
Masih ujarnya, percayakan informasi kepada media yang jelas identitasnya dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Bila menemukan berita yang meresahkan, tanyakan terlebih dahulu siapa medianya dan apakah sudah ada konfirmasi,” pesannya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memilih kepengurusan IJTI Cianjur periode 2026–2029. Selain memperkuat soliditas anggota, Muskorda juga menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi jurnalis dalam menghadapi perkembangan media sosial, algoritma digital, hoaks, deepfake, hingga konten clickbait.
Ia berharap IJTI Cianjur ke depan semakin solid, adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Cianjur.
"Tapi juga mampu bersaing di tingkat nasional," ujar Chaeronsyah.
Sebagai bentuk komitmen bersama, IJTI Cianjur mendorong semangat “Jurnalis Cianjur Anti Hoaks” ia juga mengajak seluruh insan pers, termasuk jurnalis di luar IJTI, untuk tetap berpegang teguh pada etika dan prinsip jurnalistik. Selama berkarya dengan lurus, baik dan benar, teruslah jalani.
"Janganlah mudah menyerah menghadapi kritik maupun berbagai tantangan. Nah! Paling terpenting, tetap berpegang pada karya jurnalistik yang profesional,” tutup Chaeronsyah. (Ded/Red/*)
