![]() |
| Lapas Kelas IIB Cianjur terus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui program ketahanan pangan di sektor pertanian dan peternakan. (Foto: Tangkap layar) |
SIGNALCIANJUR.COM— Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur terus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui program ketahanan pangan di sektor pertanian dan peternakan.
Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Prayogo Mubarak, mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pangan, tapi juga menjadi sarana bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan, pengalaman kerja.
"Nah! Selain itu serta membangun sikap disiplin, tanggung jawab, kerja sama dan kemandirian sebagai bekal kembali ke masyarakat," jelasnya, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan ketahanan pangan Lapas Cianjur memanfaatkan lahan sekitar 6,5 hektare di Kecamatan Campaka, serta dikembangkan melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) di lingkungan Lapas.
Di sektor peternakan, Lapas Cianjur mengembangkan ayam pedaging dengan kapasitas sekitar 1.000 ekor setiap periode 35 hari.
"Selain itu, terdapat sekitar 2.000 ekor ayam petelur dengan produksi mencapai 1.800 butir telur per hari," terang Prayogo.
Maaih ujarnya, program juga mencakup pemeliharaan 20 ekor domba Dorper di area asimilasi dalam tembok Lapas.Sementara di sektor pertanian, kegiatan hortikultura mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram komoditas per bulan.
Masih disampaikan dia, warga binaan dilibatkan langsung dalam seluruh proses kegiatan, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemberian pakan dan perawatan ternak hingga proses panen.
Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur om Prayogo Mubarak, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian penting dari pembinaan warga binaan.
“Ketahanan pangan bagi kami bukan hanya tentang menghasilkan pangan, tetapi bagaimana kegiatan tersebut menjadi media pembinaan. Warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan sesuatu secara nyata sehingga memiliki keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Prayogo.
Menurutnya, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif menjadi proses pembelajaran untuk membangun karakter sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Mereka belajar disiplin dalam merawat ternak dan tanaman, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, bekerja sama, serta memahami bagaimana sebuah proses produksi dijalankan. Inilah yang kami harapkan dapat tumbuh menjadi kemandirian,” katanya.
Prayogo menambahkan, pembinaan melalui kegiatan asimilasi juga menjadi bagian dari upaya reintegrasi sosial. Warga binaan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan membangun kembali kepercayaan diri agar mampu beradaptasi ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Pemasyarakatan pada akhirnya adalah mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.
Karena itu, mereka harus diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, membangun kembali kepercayaan, dan membuktikan bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang produktif,” tambahnya.
Lapas Cianjur berharap pengembangan sektor pertanian dan peternakan tersebut dapat memberikan manfaat ganda, yakni mendukung ketahanan pangan.
"Menciptakan pembinaan yang produktif dan berkelanjutan bagi warga binaan," ujar Prayoga.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut semangat tersebut terus diperkuat melalui program “Ketahanan Pangan untuk Negeri — Dari Pembinaan, Tumbuh Kemandirian.”
Melalui program ini, ia menambahkan Lapas Kelas IIB Cianjur berkomitmen menjadikan pembinaan sebagai proses nyata untuk meningkatkan keterampilan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan warga binaan.
"Ya! Agar mampu kembali berkontribusi secara positif bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya," tutup Prayogo. (Red)
