![]() |
| Lilis Suryani ( Guru dan Pegiat Literasi). (Foto: Istimewa) |
LONJAKAN - Perjalanan warga Jawa Barat saat libur Natal dan Tahun Baru, diprediksi mencapai lebih dari 21 juta orang menggambarkan betapa besarnya peran pariwisata dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pemerintah pun terus berupaya memaksimalkan potensi sektor ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang usaha.
Namun di balik geliatnya, muncul sejumlah persoalan yang patut kita renungkan bersama. Terutama ketika pembangunan pariwisata berjalan dalam kerangka yang sangat berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang menjadi pegangan masyarakat Indonesia mayoritas umat muslim.
Ketika Pariwisata Menjadi Sekadar Komoditas
Dalam pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada aspek ekonomi, pariwisata sering dipersepsikan sebagai ladang pertumbuhan yang harus terus diekspansi. Dampaknya, ruang-ruang wisata semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan konsumsi, kadang sampai mengesampingkan panduan moral atau nilai-nilai agama.
Di tengah dorongan untuk "berlibur sebanyak mungkin", perubahan gaya hidup juga tak terhindarkan. Masyarakat semakin bebas berekspresi, namun kebebasan ini terkadang menjauh dari batas-batas etika dan kesopanan yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Selain itu, kita juga melihat fakta yang cukup menyedihkan: pembangunan kawasan wisata sering kali lebih menguntungkan pemilik modal besar. Sementara itu, masyarakat kecil di sekitar kawasan wisata justru kehilangan lahan, terpinggirkan dari peluang ekonomi, atau hanya mendapatkan pekerjaan berupah rendah. Konflik pembebasan lahan, harga ganti rugi yang tak sepadan, serta rusaknya lingkungan alam adalah sebagian dari dampak yang kerap dirasakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa jika pariwisata hanya dilihat sebagai mesin ekonomi, maka potensi ketidakadilan dan kerusakan sosial akan semakin besar.
Pandangan Islam: Pariwisata sebagai Ruang Syukur dan Pembelajaran
Islam memandang alam bukan sekadar aset ekonomi, melainkan tanda-tanda kebesaran Allah. Wisata dalam perspektif Islam adalah sarana untuk:
• memperkuat rasa syukur,
• memperdalam pemahaman akan ciptaan Allah,
• memetik hikmah dari sejarah dan peradaban,
• serta memperkenalkan keindahan budaya Islam kepada masyarakat luas.
Dengan pandangan ini, pariwisata bukan semata soal hiburan, tetapi juga pengalaman yang menumbuhkan akhlak, ketenangan batin, dan kecintaan kepada nilai-nilai kebaikan.
Pandangan Islam tentang Pariwisata
Dahulu, ada seseorang meminta izin kepada Nabi saw. untuk berwisata dengan makna kerahiban atau hendak menyiksa diri. Nabi saw. memberi petunjuk dengan mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah." (HR Abu Daud). Hadis ini dinyatakan hasan oleh Al-Albany dan sanadnya dikuatkan oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Nabi saw. mengaitkan wisata yang dianjurkan dengan tujuan yang agung dan mulia. Islam pun mengaitkan wisata atau perjalanan dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Taala.
Terkait dengan "hiburan" pun, Islam juga mengaturnya. Islam tidak mengharamkan hiburan atau permainan asalkan tidak menyalahi hukum syarak dan dilakukan sekadarnya, tidak terus-menerus, tetapi bersifat sementara (sa'atan wa sa'atan). Handhalah pernah bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah saw., kemudian Rasul bersabda, "Demi Zat yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya andaikan kamu disiplin terhadap apa yang kamu dengar ketika bersamaku dan juga tekun dalam zikir, niscaya malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Akan tetapi, hai Handhalah, sa'atan wa sa'atan (sekedarnya saja)." (HR Muslim).
Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib al-Baghdadi menulis kitab yang terkenal 'Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits'. Di dalamnya, beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadis saja.
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munhkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman." (QS At-Taubah: 112).
Ikrimah berkata bahwa as-saa'ihuna 'mengembara' adalah mereka para pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, 7/429, Fathul Qadir, 2/408, meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan "as-saa'ihin" adalah orang-orang yang berpuasa.
Selanjutnya, maksud "wisata" dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur'an terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi. Allah berfirman: "Katakanlah, 'Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS Al-An'am: 11). Dalam ayat lain, "Katakanlah, 'Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa." (QS An-Naml: 69).
Al-Qasimi rahimahullah berkata, "Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinu at-Ta'wil).
Pemahaman lain tentang wisata dalam Islam adalah melakukan perjalanan untuk merenungi keindahan ciptaan Allah Swt., menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah, dan memotivasi untuk menunaikan kewajiban.
Allah Swt. berfirman, "Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'" (QS Al-Ankabut: 20).
Oleh : Lilis Suryani ( Guru dan Pegiat Literasi)



